Pengembara
Saya pernah bertemu seseorang yang sepertinya waktu dan tempatnya kurang tepat. Kami selalu bertolak belakang. Seperti magnet yang kutubnya searah.
Jika saya suka berdiam diri dengan membaca buku atau menonton film, dia tidak. Saya tidak suka hiruk pikuk, tapi dia suka. Saya tidak mau berbicara dengan orang asing, justru dia mau. Banyak sekali ketidaksamaan diantara kami. Bahkan hampir semuanya dari kami berbeda.
Awalnya saya menyangkal semua ketidakmasaan itu. Karena menurut saya bukan itu intinya. Karena menurut saya kita bisa paham satu sama lain. Tapi saya selalu gagal. Saya gagal paham apa yang ada diotaknya.
“Kenapa kamu gabisa menetap di satu rumah aja, sih? Harus ya kamu pergi-pergi terus kayak gini?”
“Ra, aku selalu bilang sama kamu kalau aku gak akan ngekang kamu. Kita kejar apa yang mau kita kejar dulu, aku pasti akan pulang ke kamu lagi akhirnya. Pasti.” Tatapannya nanar, terlihat sangat meyakinkan.
Saya bergeming.
Seperti yang saya bilang, kami sangat berbeda. Bahkan moto kehidupan yang kami pegang juga berbeda. Saya gak bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain dalam kurun waktu yang singkat. Saya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan sekitar saya, tapi dia tidak. Dia bisa pergi kemanapun kapanpun asal itu kemauannya.
Dan pada akhirnya saya harus memutuskan untuk menetap atau tidak.
Dan ini bukan pilihan yang ringan karena saya tahu seberapa ingin saya bersamanya.
“Kita sampai sini aja, ya.” Akhirnya inilah yang menjadi keputusan saya.
Dia terlihat sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang.
“Aku gak punya kebebasan hidup kayak kamu, aku gak bisa ikutin kayak apa yang kamu mau. Aku punya target dan aku harus tepatin semua target yang aku rencanain. Aku gak bisa nunggu yang gak jelas kepastiannya. Aku gak bisa diantara kebimbangan itu, Var,” lanjut saya.
“Tapi aku kan ngebebasin kamu untuk kejar semua mimpi kamu, Ra.” Protesnya.
“Gimana kalau mimpi aku itu kamu? Gimana kalau target aku sekarang kamu, Var? Tapi kamu masih mau— yang menurut kamu kebebasan itu?”
Dia terdiam. Wajahnya berubah kaku. Rahangnya terlihat mengeras.
“Kita terlalu beda, Var. Semuanya bahkan, dan aku gak bisa”
“Tapi aku sayang kamu.”
“Kalau kamu sayang aku, pasti kamu denger aku dari awal, tapi kamu nggak. Ego kamu masih menang, Var. Dan aku selalu jadi yang kedua.”
Dan inilah akhir dari segala akhir. Seberapa sayang pun saya sama orang itu, saya tetap gak bisa kalau disuruh menunggu.
Menunggu bukan hal yang menyenangkan. Melelahkan. Dan terombang-ambing di kebimbangan sangat menyiksa buat saya.
Setelah percakapan itu, akhirnya dia benar-benar pergi. Entah ke belahan dunia mana– toh dia pengembara. Yang senang dengan hal baru, senang dengan hal asing dan awam.
Sedang saya tidak.