Kaki Panjang, Si Pria Jangkung

Diam-diam gadis itu mengikuti jejak kaki yang berbekas ditumpukan salju. Sebisa mungkin ia memanjangkan kakinya untuk melangkah dan menyamai jejak kaki pria yang berjalan didepannya.

“Kenapa kakinya sangat panjang, ya?” Gumam gadis itu sambil mengukur panjang kakinya dengan jejak sepatu yang berbekas.

“Hei kamu sedang apa? Ayo cepat. Dingin” tegur pria yang berjalan di depannya

Gadis itu menyerah, akhirnya ia berlari untuk mengejar pria tersebut

“Kenapa jalanmu lambat sekali?” Pria itu tidak menghiraukan gadis yang mengejarnya dan tetap berjalan meninggalkan gadis itu, lagi.

Dengan jengkel gadis itu berhenti berjalan. “Lihat! Kakimu yang terlalu panjang, dan jalanmu terlalu cepat,” katanya sambil menunjuk jejak yang mebekas diatas salju

Pria itu menoleh dan memperhatikan bekas langkahnya. Memang benar, langkahnya lebih besar dibandingkan gadis itu.

“Kau tahu, aku sering terjatuh saat mengejarmu. Lima belas kali lututku terluka hanya untuk menyamakan langkahmu,” amarahnya mulai membuncah, walaupun mulutnya berasap dan bibirnya mulai membeku, gadis itu sudah tidak bisa menahannya lagi.

“Aku lelah kalau harus terus berjalan di belakangmu, aku lelah kalau harus aku yang mengejarmu, aku lelah kalau harus aku yang menyamai langkahmu” lanjutnya. Matanya mulai memerah, dan hidungnya berair karena dingin.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengejarku, aku tidak pernah menyuruhmu berjalan di belakangku, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyamai langkahku. Itu semua pilihanmu, kau yang selalu mengikutiku. Kenapa itu jadi salahku?” Jawaban yang tidak disangka-sangka keluar dari mulut sang pria membuat si gadis tertegun. Dan brengseknya, semua itu benar.

Semua itu pilihan si gadis.

“Aku tidak bilang itu salahmu, tidak bisa ya kita berjalan bersisian?” timpal si gadis tidak mau kalah

“Jangan, jangan berjalan disampingku”

“Kenapa?”

“Karena kau akan lebih terluka” pria itu berbalik dan meninggalkan si gadis ditengah badai salju.

Benar-benar ditinggalkan,

Sendirian,

Dasar sampah.

“Kau pengecut!” Teriak gadis itu dengan suara bergetar karena dingin dan menahan tangis.

Tapi memang itu kenyataannya. Saat kau mengejar sesuatu, kau juga harus mempersiapkan diri untuk terjatuh, kau harus mempersiapkan diri untuk terluka. Dan yang paling berat, kau harus menyembuhkan luka itu sendiri.