<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>not her secret </title>
    <link>https://not-hersecret.writeas.com/</link>
    <description>Hi! Welcome to the universe that i made by myself :) </description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 01:00:34 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Pengembara</title>
      <link>https://not-hersecret.writeas.com/pengembara?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Saya pernah bertemu seseorang yang sepertinya waktu dan tempatnya kurang tepat. Kami selalu bertolak belakang. Seperti magnet yang kutubnya searah. &#xA;&#xA;!--more--&#xA;Jika saya suka berdiam diri dengan membaca buku atau menonton film, dia tidak. Saya tidak suka hiruk pikuk, tapi dia suka. Saya tidak mau berbicara dengan orang asing, justru dia mau. Banyak sekali ketidaksamaan diantara kami. Bahkan hampir semuanya dari kami berbeda. &#xA;&#xA;Awalnya saya menyangkal semua ketidakmasaan itu. Karena menurut saya bukan itu intinya. Karena menurut saya kita bisa paham satu sama lain. Tapi saya selalu gagal. Saya gagal paham apa yang ada diotaknya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu gabisa menetap di satu rumah aja, sih? Harus ya kamu pergi-pergi terus kayak gini?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ra, aku selalu bilang sama kamu kalau aku gak akan ngekang kamu. Kita kejar apa yang mau kita kejar dulu, aku pasti akan pulang ke kamu lagi akhirnya. Pasti.&#34; Tatapannya nanar, terlihat sangat meyakinkan. &#xA;&#xA;Saya bergeming. &#xA;&#xA;Seperti yang saya bilang, kami sangat berbeda. Bahkan moto kehidupan yang kami pegang juga berbeda. Saya gak bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain dalam kurun waktu yang singkat. Saya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan sekitar saya, tapi dia tidak. Dia bisa pergi kemanapun kapanpun asal itu kemauannya. &#xA;&#xA;Dan pada akhirnya saya harus memutuskan untuk menetap atau tidak. &#xA;&#xA;Dan ini bukan pilihan yang ringan karena saya tahu seberapa ingin saya bersamanya. &#xA;&#xA;&#34;Kita sampai sini aja, ya.&#34; Akhirnya inilah yang menjadi keputusan saya. &#xA;&#xA;Dia terlihat sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang. &#xA;&#xA;&#34;Aku gak punya kebebasan hidup kayak kamu, aku gak bisa ikutin kayak apa yang kamu mau. Aku punya target dan aku harus tepatin semua target yang aku rencanain. Aku gak bisa nunggu yang gak jelas kepastiannya. Aku gak bisa diantara kebimbangan itu, Var,&#34; lanjut saya. &#xA;&#xA;&#34;Tapi aku kan ngebebasin kamu untuk kejar semua mimpi kamu, Ra.&#34; Protesnya. &#xA;&#xA;&#34;Gimana kalau mimpi aku itu kamu? Gimana kalau target aku sekarang kamu, Var? Tapi kamu masih mau— yang menurut kamu kebebasan itu?&#34; &#xA;&#xA;Dia terdiam. Wajahnya berubah kaku. Rahangnya terlihat mengeras.&#xA;&#xA;&#34;Kita terlalu beda, Var. Semuanya bahkan, dan aku gak bisa&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tapi aku sayang kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalau kamu sayang aku, pasti kamu denger aku dari awal, tapi kamu nggak. Ego kamu masih menang, Var. Dan aku selalu jadi yang kedua.&#34; &#xA;&#xA;Dan inilah akhir dari segala akhir. Seberapa sayang pun saya sama orang itu, saya tetap gak bisa kalau disuruh menunggu. &#xA;&#xA;Menunggu bukan hal yang menyenangkan. Melelahkan. Dan terombang-ambing di kebimbangan sangat menyiksa buat saya. &#xA;&#xA;Setelah percakapan itu, akhirnya dia benar-benar pergi. Entah ke belahan dunia mana– toh dia pengembara. Yang senang dengan hal baru, senang dengan hal asing dan awam. &#xA;&#xA;Sedang saya tidak. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah bertemu seseorang yang sepertinya waktu dan tempatnya kurang tepat. Kami selalu bertolak belakang. Seperti magnet yang kutubnya searah.</p>



<p>Jika saya suka berdiam diri dengan membaca buku atau menonton film, dia tidak. Saya tidak suka hiruk pikuk, tapi dia suka. Saya tidak mau berbicara dengan orang asing, justru dia mau. Banyak sekali ketidaksamaan diantara kami. Bahkan hampir semuanya dari kami berbeda.</p>

<p>Awalnya saya menyangkal semua ketidakmasaan itu. Karena menurut saya bukan itu intinya. Karena menurut saya kita bisa paham satu sama lain. Tapi saya selalu gagal. Saya gagal paham apa yang ada diotaknya.</p>

<p>“Kenapa kamu gabisa menetap di satu rumah aja, sih? Harus ya kamu pergi-pergi terus kayak gini?”</p>

<p>“Ra, aku selalu bilang sama kamu kalau aku gak akan ngekang kamu. Kita kejar apa yang mau kita kejar dulu, aku pasti akan pulang ke kamu lagi akhirnya. Pasti.” Tatapannya nanar, terlihat sangat meyakinkan.</p>

<p>Saya bergeming.</p>

<p>Seperti yang saya bilang, kami sangat berbeda. Bahkan moto kehidupan yang kami pegang juga berbeda. Saya gak bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain dalam kurun waktu yang singkat. Saya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan sekitar saya, tapi dia tidak. Dia bisa pergi kemanapun kapanpun asal itu kemauannya.</p>

<p>Dan pada akhirnya saya harus memutuskan untuk menetap atau tidak.</p>

<p>Dan ini bukan pilihan yang ringan karena saya tahu seberapa ingin saya bersamanya.</p>

<p>“Kita sampai sini aja, ya.” Akhirnya inilah yang menjadi keputusan saya.</p>

<p>Dia terlihat sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang.</p>

<p>“Aku gak punya kebebasan hidup kayak kamu, aku gak bisa ikutin kayak apa yang kamu mau. Aku punya target dan aku harus tepatin semua target yang aku rencanain. Aku gak bisa nunggu yang gak jelas kepastiannya. Aku gak bisa diantara kebimbangan itu, Var,” lanjut saya.</p>

<p>“Tapi aku kan ngebebasin kamu untuk kejar semua mimpi kamu, Ra.” Protesnya.</p>

<p>“Gimana kalau mimpi aku itu kamu? Gimana kalau target aku sekarang kamu, Var? Tapi kamu masih mau— yang menurut kamu kebebasan itu?”</p>

<p>Dia terdiam. Wajahnya berubah kaku. Rahangnya terlihat mengeras.</p>

<p>“Kita terlalu beda, Var. Semuanya bahkan, dan aku gak bisa”</p>

<p>“Tapi aku sayang kamu.”</p>

<p>“Kalau kamu sayang aku, pasti kamu denger aku dari awal, tapi kamu nggak. Ego kamu masih menang, Var. Dan aku selalu jadi yang kedua.”</p>

<p>Dan inilah akhir dari segala akhir. Seberapa sayang pun saya sama orang itu, saya tetap gak bisa kalau disuruh menunggu.</p>

<p>Menunggu bukan hal yang menyenangkan. Melelahkan. Dan terombang-ambing di kebimbangan sangat menyiksa buat saya.</p>

<p>Setelah percakapan itu, akhirnya dia benar-benar pergi. Entah ke belahan dunia mana– toh dia pengembara. Yang senang dengan hal baru, senang dengan hal asing dan awam.</p>

<p>Sedang saya tidak.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://not-hersecret.writeas.com/pengembara</guid>
      <pubDate>Fri, 28 Jan 2022 04:24:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sama sama mabuk</title>
      <link>https://not-hersecret.writeas.com/sama-sama-mabuk?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kalau kamu mabuk sebab anggur merah,&#xA;Maka aku oleh wangi kayu yang menguar di setiap kertas dari buku yang kubaca.&#xA;&#xA;Jika kamu bisa mengudara di setiap teguk anggur merah,&#xA;Maka aku bisa tenggelam pada imaji-imaji di setiap cerita.&#xA;&#xA;Saat kamu hilang ingatan karena mabuknya,&#xA;Maka aku sebab tokoh yang tidak nyata keberadaannya.&#xA;&#xA;Mungkin kamu berlari pada anggur merah untuk melupakan semesta,&#xA;Tapi aku pada buku yang ajaib mantranya.&#xA;&#xA;Alam raya, punya seribu juta cara untuk berduka dan bergembira.&#xA;&#xA;Mari rayakan bersama.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kamu mabuk sebab anggur merah,
Maka aku oleh wangi kayu yang menguar di setiap kertas dari buku yang kubaca.</p>

<p>Jika kamu bisa mengudara di setiap teguk anggur merah,
Maka aku bisa tenggelam pada imaji-imaji di setiap cerita.</p>

<p>Saat kamu hilang ingatan karena mabuknya,
Maka aku sebab tokoh yang tidak nyata keberadaannya.</p>

<p>Mungkin kamu berlari pada anggur merah untuk melupakan semesta,
Tapi aku pada buku yang ajaib mantranya.</p>

<p>Alam raya, punya seribu juta cara untuk berduka dan bergembira.</p>

<p>Mari rayakan bersama.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://not-hersecret.writeas.com/sama-sama-mabuk</guid>
      <pubDate>Mon, 04 Oct 2021 04:17:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kaki Panjang, Si Pria Jangkung </title>
      <link>https://not-hersecret.writeas.com/kaki-panjang-si-pria-jangkung?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Diam-diam gadis itu mengikuti jejak kaki yang berbekas ditumpukan salju. Sebisa mungkin ia memanjangkan kakinya untuk melangkah dan menyamai jejak kaki pria yang berjalan didepannya. &#xA;!--more--&#xA;&#34;Kenapa kakinya sangat panjang, ya?&#34; Gumam gadis itu sambil mengukur panjang kakinya dengan jejak sepatu yang berbekas. &#xA;&#xA;&#34;Hei kamu sedang apa? Ayo cepat. Dingin&#34; tegur pria yang berjalan di depannya &#xA;&#xA;Gadis itu menyerah, akhirnya ia berlari untuk mengejar pria tersebut&#xA;&#xA;&#34;Kenapa jalanmu lambat sekali?&#34; Pria itu tidak menghiraukan gadis yang mengejarnya dan tetap berjalan meninggalkan gadis itu, lagi. &#xA;&#xA;Dengan jengkel gadis itu berhenti berjalan. &#34;Lihat! Kakimu yang terlalu panjang, dan jalanmu terlalu cepat,&#34; katanya sambil menunjuk jejak yang mebekas diatas salju &#xA;&#xA;Pria itu menoleh dan memperhatikan bekas langkahnya. Memang benar, langkahnya lebih besar dibandingkan gadis itu. &#xA;&#xA;&#34;Kau tahu, aku sering terjatuh saat mengejarmu. Lima belas kali lututku terluka hanya untuk menyamakan langkahmu,&#34; amarahnya mulai membuncah, walaupun mulutnya berasap dan bibirnya mulai membeku, gadis itu sudah tidak bisa menahannya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Aku lelah kalau harus terus berjalan di belakangmu, aku lelah kalau harus aku yang mengejarmu, aku lelah kalau harus aku yang menyamai langkahmu&#34; lanjutnya. Matanya mulai memerah, dan hidungnya berair karena dingin. &#xA;&#xA;&#34;Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengejarku, aku tidak pernah menyuruhmu berjalan di belakangku, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyamai langkahku. Itu semua pilihanmu, kau yang selalu mengikutiku. Kenapa itu jadi salahku?&#34; Jawaban yang tidak disangka-sangka keluar dari mulut sang pria membuat si gadis tertegun. Dan brengseknya, semua itu benar. &#xA;&#xA;Semua itu pilihan si gadis. &#xA;&#xA;&#34;Aku tidak bilang itu salahmu, tidak bisa ya kita berjalan bersisian?&#34; timpal si gadis tidak mau kalah &#xA;&#xA;&#34;Jangan, jangan berjalan disampingku&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Karena kau akan lebih terluka&#34; pria itu berbalik dan meninggalkan si gadis ditengah badai salju. &#xA;&#xA;Benar-benar ditinggalkan,&#xA;&#xA;Sendirian,&#xA;&#xA;Dasar sampah.&#xA;&#xA;&#34;Kau pengecut!&#34; Teriak gadis itu dengan suara bergetar karena dingin dan menahan tangis. &#xA;&#xA;Tapi memang itu kenyataannya. Saat kau mengejar sesuatu, kau juga harus mempersiapkan diri untuk terjatuh, kau harus mempersiapkan diri untuk terluka. Dan yang paling berat, kau harus menyembuhkan luka itu sendiri.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Diam-diam gadis itu mengikuti jejak kaki yang berbekas ditumpukan salju. Sebisa mungkin ia memanjangkan kakinya untuk melangkah dan menyamai jejak kaki pria yang berjalan didepannya.

“Kenapa kakinya sangat panjang, ya?” Gumam gadis itu sambil mengukur panjang kakinya dengan jejak sepatu yang berbekas.</p>

<p>“Hei kamu sedang apa? Ayo cepat. Dingin” tegur pria yang berjalan di depannya</p>

<p>Gadis itu menyerah, akhirnya ia berlari untuk mengejar pria tersebut</p>

<p>“Kenapa jalanmu lambat sekali?” Pria itu tidak menghiraukan gadis yang mengejarnya dan tetap berjalan meninggalkan gadis itu, lagi.</p>

<p>Dengan jengkel gadis itu berhenti berjalan. “Lihat! Kakimu yang terlalu panjang, dan jalanmu terlalu cepat,” katanya sambil menunjuk jejak yang mebekas diatas salju</p>

<p>Pria itu menoleh dan memperhatikan bekas langkahnya. Memang benar, langkahnya lebih besar dibandingkan gadis itu.</p>

<p>“Kau tahu, aku sering terjatuh saat mengejarmu. Lima belas kali lututku terluka hanya untuk menyamakan langkahmu,” amarahnya mulai membuncah, walaupun mulutnya berasap dan bibirnya mulai membeku, gadis itu sudah tidak bisa menahannya lagi.</p>

<p>“Aku lelah kalau harus terus berjalan di belakangmu, aku lelah kalau harus aku yang mengejarmu, aku lelah kalau harus aku yang menyamai langkahmu” lanjutnya. Matanya mulai memerah, dan hidungnya berair karena dingin.</p>

<p>“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengejarku, aku tidak pernah menyuruhmu berjalan di belakangku, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyamai langkahku. Itu semua pilihanmu, kau yang selalu mengikutiku. Kenapa itu jadi salahku?” Jawaban yang tidak disangka-sangka keluar dari mulut sang pria membuat si gadis tertegun. Dan brengseknya, semua itu benar.</p>

<p>Semua itu pilihan si gadis.</p>

<p>“Aku tidak bilang itu salahmu, tidak bisa ya kita berjalan bersisian?” timpal si gadis tidak mau kalah</p>

<p>“Jangan, jangan berjalan disampingku”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Karena kau akan lebih terluka” pria itu berbalik dan meninggalkan si gadis ditengah badai salju.</p>

<p>Benar-benar ditinggalkan,</p>

<p>Sendirian,</p>

<p>Dasar sampah.</p>

<p>“Kau pengecut!” Teriak gadis itu dengan suara bergetar karena dingin dan menahan tangis.</p>

<p>Tapi memang itu kenyataannya. Saat kau mengejar sesuatu, kau juga harus mempersiapkan diri untuk terjatuh, kau harus mempersiapkan diri untuk terluka. Dan yang paling berat, kau harus menyembuhkan luka itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://not-hersecret.writeas.com/kaki-panjang-si-pria-jangkung</guid>
      <pubDate>Mon, 25 Jan 2021 23:17:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Anak gadis ibu</title>
      <link>https://not-hersecret.writeas.com/anak-gadis-ibu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ibu, aku tidak ingin tumbuh. Semesta terlihat menyeramkan untukku.&#xA;&#xA;Ibu, aku belum siap untuk melihat dunia. Umurku sudah delapan belas, tapi rasanya seperti baru kemarin aku duduk dipangkuanmu. &#xA;!--more--&#xA;Ibu, lihat aku. Anakmu tumbuh menjadi gadis yang tidak ada apa-apanya jika bukan karenamu. &#xA;&#xA;Ibu, doamu sangat membantuku. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu adalah berlian. Jangan sembarang. &#xA;&#xA;Ibu, maaf aku terlalu menyebalkan. Selalu membantah dan tak mau dengar wajenganmu. &#xA;&#xA;Ibu, kelak akan ada seorang pria yang menjemputku. Terimakasih atas segala yang kau kasihi selama hidupku. &#xA;&#xA;Ibu, nantinya aku akan menjadi ibu. Kau selalu jadi panutanku dalam segala hal apapun itu. &#xA;&#xA;Ibu, jangan pernah merasa kesepian. Karena selalu ada ruang untukmu dibenakku. &#xA;&#xA;Ibu, tiga puluh tahun lagi, aku juga akan menua sepertimu. Pelajaran hidup yang kau sematkan, aku mengalami semua itu. &#xA;&#xA;Ibu, ternyata benar katamu. Semesta ini kecil, tidak ada apa-apanya dengan tekadku. &#xA;&#xA;Ibu, terimakasih menjadi ibuku. Kau selalu satu dan hanya akan menjadi yang nomor satu. &#xA;&#xA;Selamat hari ibu. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ibu, aku tidak ingin tumbuh. Semesta terlihat menyeramkan untukku.</p>

<p>Ibu, aku belum siap untuk melihat dunia. Umurku sudah delapan belas, tapi rasanya seperti baru kemarin aku duduk dipangkuanmu.

Ibu, lihat aku. Anakmu tumbuh menjadi gadis yang tidak ada apa-apanya jika bukan karenamu.</p>

<p>Ibu, doamu sangat membantuku. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu adalah berlian. Jangan sembarang.</p>

<p>Ibu, maaf aku terlalu menyebalkan. Selalu membantah dan tak mau dengar wajenganmu.</p>

<p>Ibu, kelak akan ada seorang pria yang menjemputku. Terimakasih atas segala yang kau kasihi selama hidupku.</p>

<p>Ibu, nantinya aku akan menjadi ibu. Kau selalu jadi panutanku dalam segala hal apapun itu.</p>

<p>Ibu, jangan pernah merasa kesepian. Karena selalu ada ruang untukmu dibenakku.</p>

<p>Ibu, tiga puluh tahun lagi, aku juga akan menua sepertimu. Pelajaran hidup yang kau sematkan, aku mengalami semua itu.</p>

<p>Ibu, ternyata benar katamu. Semesta ini kecil, tidak ada apa-apanya dengan tekadku.</p>

<p>Ibu, terimakasih menjadi ibuku. Kau selalu satu dan hanya akan menjadi yang nomor satu.</p>

<p>Selamat hari ibu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://not-hersecret.writeas.com/anak-gadis-ibu</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Dec 2020 11:44:06 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>